<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>My FaceBlog &#187; Cerita Hikmah</title>
	<atom:link href="http://blog.isdaryanto.com/category/cerita-hikmah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.isdaryanto.com</link>
	<description>&#124; Tempat ngeblog a la facebook...</description>
	<lastBuildDate>Fri, 09 Dec 2011 19:16:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.3</generator>
		<item>
		<title>Kasih Sayang Seorang Ibu</title>
		<link>http://blog.isdaryanto.com/kasih-sayang-seorang-ibu</link>
		<comments>http://blog.isdaryanto.com/kasih-sayang-seorang-ibu#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Dec 2009 14:13:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Isdaryanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Notes]]></category>
		<category><![CDATA[cerita kasih ibu]]></category>
		<category><![CDATA[cerita kasih sayang]]></category>
		<category><![CDATA[cerita kasih sayang ibu]]></category>
		<category><![CDATA[cerita kasih sayang seorang ibu]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen kasih sayang ibu]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen kasih sayang seorang ibu]]></category>
		<category><![CDATA[kasih ibu]]></category>
		<category><![CDATA[kasih ibu kepada anak]]></category>
		<category><![CDATA[kasih sayang ibu]]></category>
		<category><![CDATA[kasih sayang seorang ibu]]></category>
		<category><![CDATA[kasih seorang ibu]]></category>
		<category><![CDATA[kisah kasih ibu]]></category>
		<category><![CDATA[kisah kasih seorang ibu]]></category>
		<category><![CDATA[puisi kasih sayang ibu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.isdaryanto.com/?p=381</guid>
		<description><![CDATA[Seorang anak menghampiri ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur. Kemudian dia mengulurkan sekeping kertas yang bertuliskan sesuatu. Si Ibu segera membersihkan tangan dan lalu menerima kertas yang diulurkan oleh si anak dan membacanya. Ongkos upah membantu ibu : 1) Membantu pergi Ke warung Rp 20.000 2) Menjaga adik Rp 20.000 3) Membuang sampah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang anak menghampiri ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur.  Kemudian dia mengulurkan sekeping kertas yang bertuliskan sesuatu. Si Ibu segera membersihkan tangan dan lalu menerima kertas yang diulurkan oleh si anak dan membacanya. <span id="more-381"></span></p>
<p>Ongkos upah membantu ibu :<br />
1) Membantu pergi Ke warung Rp 20.000<br />
2) Menjaga adik Rp 20.000<br />
3) Membuang sampah Rp 5.000<br />
4) Membereskan tempat tidur Rp 10.000<br />
5) menyiram bunga Rp 15.000<br />
6) Menyapu halaman Rp 15.000</p>
<p><strong>Jumlah : Rp 85.000</strong></p>
<p>Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak yang raut mukanya berbinar-binar. Si Ibu mengambil pena dan menulis sesuatu dibelakang kertas yang sama.</p>
<p>1) Ongkos mengandungmu selama 9 bulan &#8211; <strong>GRATIS</strong><br />
2) Ongkos berjaga malam karena menjagamu &#8211; <strong>GRATIS</strong><br />
3) Ongkos air mata yang menetes karenamu &#8211; <strong>GRATIS</strong><br />
4) Ongkos Khawatir karena selalu memikirkan keadaanmu &#8211; <strong>GRATIS</strong><br />
5) Ongkos menyediakan makan minum, pakaian dan keperluanmu &#8211; <strong>GRATIS</strong></p>
<p><strong>Jumlah Keseluruhan Nilai Kasihku &#8211; GRATIS</strong></p>
<p>Air mata si anak berlinang setelah membaca. Si anak menatap wajah ibu, memeluknya dan berkata, &#8220;Aku Sayang Ibu&#8221;. Kemudian si anak mengambil pena dan menulis sesuatu di depan surat yang ditulisnya : <strong>&#8220;TELAH DIBAYAR LUNAS&#8221;</strong>.</p>
<p>Diriwayatkan seorang telah bertemu Rasul Allah Muhammad SAW dan bertanya, &#8220;Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berhak mendapatkan layanan istimewa dariku ?&#8221;. Rasulullah menjawab, &#8220;Ibumu&#8221;. Kemudian ???, Rasulullah menjawab, &#8220;Ibumu..&#8221; Kemudian ???, Rasulullah menjawab, &#8220;Ibumu..&#8221;. Kemudian Rasulullah menjawab, &#8220;Baru Kemudian Ayahmu dan setelah itu saudara-saudara terdekatmu&#8221;.</p>
<p>Maka, sebelum semuanya terlambat, dan sebelum kita menyesal, sebelum mereka tiada, <strong>sayangi dan perlakukan ibu kita sebaik mungkin</strong> yang bisa kita lakukan, karena sebesar apapun kekayaan yang kita berikan padanya, tidak akan bisa membayar keihlasan atas segala jerih payahnya membesarkan kita. Percayalah, jika kita berbuat yang kurang baik terhadap ibu kita, dampaknya akan terlihat di dunia ini. Memang benar, &#8220;<strong>surga itu ada di telapak kaki ibu</strong>&#8220;.***<br />
<br/></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.isdaryanto.com/kasih-sayang-seorang-ibu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>47</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Hikmah : Kisah Tukang Cukur</title>
		<link>http://blog.isdaryanto.com/kisah-tukang-cukur</link>
		<comments>http://blog.isdaryanto.com/kisah-tukang-cukur#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Dec 2009 09:31:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Isdaryanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Notes]]></category>
		<category><![CDATA[cerita hikmah islam]]></category>
		<category><![CDATA[cerita hikmah islami]]></category>
		<category><![CDATA[cerita hikmat]]></category>
		<category><![CDATA[cerita islam penuh hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[cerita penuh hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah tukang cukur]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan cerita hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[tuhan itu ada]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.isdaryanto.com/?p=343</guid>
		<description><![CDATA[Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya. Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat. Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang TUHAN. Si tukang cukur bilang,”Saya tidak percaya kalau TUHAN itu ada”. “Kenapa kamu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya. Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat. <span id="more-343"></span></p>
<p>Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang TUHAN. </p>
<p>Si tukang cukur bilang,”Saya tidak percaya kalau TUHAN itu ada”.<br />
“Kenapa kamu berkata begitu ?” tanya si konsumen. </p>
<p>“Begini, coba kamu perhatikan di depan sana, di jalanan&#8230;. untuk menyadari bahwa TUHAN itu tidak ada”.<br />
“Katakan kepadaku, jika TUHAN itu ada. Adakah yang sakit? Adakah anak-anak terlantar? Adakah yang hidupnya susah?” . </p>
<p>“Jika TUHAN itu ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan”.<br />
“Saya tidak dapat membayangkan TUHAN Yang Maha Pengasih dan Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi”. </p>
<p>Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon apa yang dikatakan si tukang cukur tadi, karena dia tidak ingin terlibat adu pendapat. Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur. </p>
<p>Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar, kotor dan brewok,  tidak pernah dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat. </p>
<p>Si konsumen balik ke tempat tukang cukur tadi dan berkata :<br />
“Kamu tahu, sebenarnya di dunia ini TIDAK ADA TUKANG CUKUR..!” </p>
<p>Si tukang cukur tidak terima, dia bertanya : ”Kamu kok bisa bilang begitu?”.<br />
“Saya tukang cukur dan saya ada di sini. Dan barusan saya mencukurmu!” </p>
<p>“Tidak!” elak si konsumen.<br />
“Tukang cukur itu TIDAK ADA! Sebab jika tukang cukur itu ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana“, si konsumen menambahkan. </p>
<p>“Ah tidak, tapi tukang cukur itu tetap ada!”, sanggah si tukang cukur.<br />
“Apa yang kamu lihat itu adalah SALAH MEREKA SENDIRI, kenapa mereka tidak datang kepada saya untuk mencukur dan merapikan rambutnya?”, jawab si tukang cukur membela diri. </p>
<p>“COCOK, SAYA SETUJU..!” kata si konsumen.<br />
“Itulah point utamanya!.. Sama dengan TUHAN.<br />
“Maksud kamu bagaimana?”, tanya si tukang cukur tidak mengerti. </p>
<p>Sebenarnya TUHAN ITU ADA ! Tapi apa yang terjadi sekarang ini.?<br />
Mengapa orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU mencari-NYA..?</p>
<p>Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini.”<br />
Si tukang cukur terbengong !!!!  Dalam hati dia berkata : “Benar juga apa kata dia..kenapa aku tidak mau datang kepada TUHANKU, untuk beribadah dan berdoa, memohon agar dihindarkan dari segala kesusahan dalam hidup ini..?”</p>
<p>JIKA ANDA BERPIKIR TUHAN ADA , SAMPAIKAN HAL INI KE ORANG LAIN….SEMOGA KITA SELALU DIBERI KEBAIKAN DALAM HIDUP INI..AMIEN</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.isdaryanto.com/kisah-tukang-cukur/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Hikmah : Kisah Seorang Ibu</title>
		<link>http://blog.isdaryanto.com/kisah-seorang-ibu</link>
		<comments>http://blog.isdaryanto.com/kisah-seorang-ibu#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 13:05:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Isdaryanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[cerita hikmat]]></category>
		<category><![CDATA[cerita penuh hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata seorang ibu]]></category>
		<category><![CDATA[kisah pengorbanan seorang ibu]]></category>
		<category><![CDATA[kisah perjuangan seorang ibu]]></category>
		<category><![CDATA[kisah seorang ibu]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan cerita hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[renungan sebuah profesi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.isdaryanto.com/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Berusahalah untuk tidak menjadi manusia yang berhasil, tapi berusahalah untuk menjadi manusia yang berguna&#8221;. (Einstein) Pada suatu ketika, beberapa tahun yang silam, seorang pemuda terpelajar dari Surabaya sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta. Disampingnya duduk seorang ibu yang sudah setengah baya. Si pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan. ”Ibu, ada acara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Berusahalah untuk tidak menjadi manusia yang berhasil, tapi berusahalah untuk menjadi manusia yang berguna&#8221;. (Einstein) <span id="more-97"></span></p>
<p>Pada suatu ketika, beberapa tahun yang silam, seorang pemuda terpelajar dari Surabaya sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta. Disampingnya duduk seorang ibu yang sudah setengah baya. Si pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan. ”Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta ?” tanya si pemuda. “Oh…saya mau ke Jakarta terus “connecting flight” ke Singapore untuk menengok anak saya yang ke dua”, jawab ibu itu. ”Wouw… hebat sekali putra ibu”, pemuda itu menyahut dan terdiam sejenak.</p>
<p>Pemuda itu merenung. Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahu pemuda itu melanjutkan pertanyaannya.” Kalau saya tidak salah, anak yang di Singapore tadi , putra yang kedua ya bu? Bagaimana dengan kakak adik-adik nya?” ”Oh ya tentu”, si Ibu bercerita : ”Anak saya yang ketiga seorang dokter di Malang, yang keempat berkerja di perkebunan di Lampung, yang kelima menjadi arsitek di Jakarta, yang keenam menjadi kepala cabang bank di Purwokerto, dan yang ke tujuh menjadi Dosen di sebuah perguruan tinggi terkemuka Semarang.””</p>
<p>Pemuda tadi diam, hebat ibu ini, bisa mendidik anak-anaknya dengan sangat baik, dari anak kedua sampai ke tujuh. ”Terus bagaimana dengan anak pertama ibu ?” Sambil menghela napas panjang, ibu itu menjawab, ”Anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja nak. Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar.” kata sang Ibu.</p>
<p>Pemuda itu segera menyahut, “Maaf ya Bu… mungkin ibu agak kecewa ya dengan anak ibu yang pertama, karena adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedang dia menjadi seorang petani?”</p>
<p>Apa jawab sang ibu..???</p>
<p>Apakah anda ingin tahu jawabannya..???</p>
<p>Dengan tersenyum ibu itu menjawab :<br />
”Ooo …tidak, tidak begitu nak….Justru saya SANGAT BANGGA dengan anak pertama saya, karena dialah yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani”… Pemuda itu terbengong….</p>
<p><strong>HIKMAH YANG BISA DIPETIK</strong></p>
<p>Semua orang di dunia ini penting. Buka matamu, pikiranmu, hatimu. Intinya adalah kita tidak bisa membuat ringkasan sebelum kita membaca buku itu sampai selesai. Orang bijak berbicara “Hal yang paling penting dalam hidup ini bukan SIAPAKAH ANDA? tapi APA YANG SUDAH ANDA LAKUKAN UNTUK ORANG LAIN?”</p>
<p>Semoga bermanfaat dan menjadikan renungan bagi kita, agar kita senantiasa dapat menjadi orang yang berguna bagi orang lain.***<br />
<br/></p>
<hr/>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.isdaryanto.com/kisah-seorang-ibu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

